December 30, 2016

2016-nya Acha

Ada yang bilang,
The first rule of 2017 is stop talking about 2016
Ha! Mumpung ini masih tanggal 30 Desember which 2 hari sebelum 2017, bolehkan aku bicara tentang tahun ini.

Secara umum, aku senang dengan tahun 2016. Satu kata yang menggambarkan tahun ini untukku: Produktif (ini bentuk positif dari Lelah sepertinya lol, eh tapi ini Lelah dalam hal positif, ya). Beberapa hal dahsyat terjadi di tahun ini

Dilema Orang Kedua

Di balik jabatan w a k i l yang--sometimes--terdengar 'wah', ada pergulatan batin yang pasti dirasa.
"Ooh kamu wakil ketua? Keren dong." kaga tau ini keren beneran apa ngga
"Oiya kamu wakilnya?" dengan nada seakan-akan "lahiya? kaga pernah keliatan dah"

December 25, 2016

FISIPERS UI untuk Acha


Saat ini jam menunjukkan pukul 23:50 tapi aku ngga bisa menahan hasrat untuk menuliskan apa yang ada di benakku sekarang. Ini tentang FISIPERS.
Kemarin Jumat, 23 Desember 2016, mungkin adalah hari terakhirku tercatat sebagai anggota FISIPERS, dan aku tidak akan pernah bisa mengulangnya.


May 9, 2016

The Act of Apologizing

Tulisan ini berangkat dari sebuat pengalaman yang...well, sederhana sebenarnya, tapi pengaruhnya entah kenapa luar biasa. Pengalaman ini aku alami beberapa bulan lalu. Intinya adalah, aku ingin meredefinisi motivasi sebuah tindakan permohonan maaf --anjir bahasa w dah kayak mo penelitian--.
Untuk itu, pada tulisan ini, aku bukan membahas pun mengungkit kejadian itu, melainkan membahas mengenai tindakan permohonan maaf itu sendiri.

Jadi begini ceritanya...
4.46 PM
*a picture was sent*
Aku pulang ya __. Tadinya mau ngasi iniii wkwk. Dah jadi nyoba belum?

Sederhana memang, aku cuma mau memberikan sebungkus chips yang belum lama populer, tapi karena hari itu aku nggak sempat ketemu orang tersebut, maka aku belum sempat memberikannya.
Lalu orang tersebut membalas,
4.56 PM
Iyaa hati2.
Belum. Gampang nanti bisa beli sendiri.
Gak terlalu penasaran juga.

Kalau boleh jujur, aku kaget membaca balasan tersebut. Kayak... mungkin ini aku yang lebay saja, tapi kayak slap on my face! Maksudku, niatku tulus benar-benar ingin memberikan itu. Yah, memang nilainya gak seberapa, bayar pakai cebanan pun kita masih dapat kembalian. Aku yakin juga orang tersebut bisa beli sendiri, tapi bukan itu poinku... Tapi aku merasa tidak berhak marah atau protes maka ku putuskan untuk tidak usah membalas pesan tersebut.
Lalu malamnya, sebuah pesan dari orang yang sama,
7.57 PM
Maaf ya kalo kata-kataku gak enak hari ini

Lalu aku balas paginya,
8.23 AM
.....--gaperlu ditulis--....Maaf bukan maksud ngajarin atau kritik, tapi semoga km gitu ke aku aja, jangan ke orang lain karena gak semua orang bisa terima dapet kata2 yg kurang enak kayak kemarin.

Surprisingly, orang tersebut menjawab lagi,
8.41 AM
Segaenak itu? Itu kan biasa aja. Cuma karena kamu udah tulus mau ngasih itu aku mikir kok kayaknya kurang pas kalau jawab seadanya.
Itu aku balas juga sekenanya karena lagi ngerjain sesuatu.
Coba baca lagi deh. Itu biasa aja kata2nya.
--bagian gaperlu ditulis lainnya--

Lalu aku balas,
8.45 AM
Kalau gitu kamu ndak usah minta maaf harusnya. Bilang maaf itu karena ngerasa ngelakuin kesalahan, bukan biar dirimu ngerasa lebih enak aja, bukan juga karena nggak aku bales lalu kamu ngerasa ada yang salah.
----------------------------------

Yah begitu kira-kira. Dahsyat ya, the power of recalling memory bisa bikin kita menghela nafas panjang lagi seperti saat kejadian itu terjadi.
Dan dari merecall memori itu, aku jadi merenungi hal ini.

Jadi, tujuan dari an act of apologizing, suatu permintaan maaf itu, apa sih?
Lalu,
ketika kita meminta maaf, pikiran seperti apa yang mendorong kita untuk meminta maaf?
Apakah,
"duh kayaknya aku bersalah sama dia"
atau
"duh kayaknya dia gak suka sama apa yang aku ucapkan"

Maksudku, permintaan maaf itu keluar sebagai respon dari sikap kita sendiri, atau sikap orang lain terhadap sikap kita? Mulai njelimet.
Menurutku, suatu permintaan maaf yang tulus terlahir dari sebuah rasa bersalah, rasa menyesal, which is yaa sikap kita sendiri. Tapi yang sering aku temui, permintaan maaf terlahir setelah menyadari bahwa orang lain tak bisa menerima tindakan kita, atau formalitas agar perasaan kita lebih enak saja. Egois, eh?

Aku bukan tipe yang suka mempermasalahkan hal-hal sepele. Mungkin setelah ini, tugasku selanjutnya adalah mendefinisikan "sepele" di sini.

April 4, 2016

It wasn't a Mistake, but Still It's not Right

"siapa yang salah?"
Mungkin waktu. Mungkin egoku.
Waktu, karena ia mendesain sebuah pertemuan berpasangan dengan kepergian.
Egoku, karena adalah sebuah pilihanku, segala di antara pertemuan dan kepergian.

"apa ini sebuah kesalahan?"
Bukan. Kami bukan sebuah kesalahan. Kami adalah sebuah percobaan, dan percobaan tak pernah memiliki garansi keberhasilan.

"sedih?"
Aku sedih. Tentu aku sedih. Ketika sebuah penyudahan benar-benar terjadi dengan cepat, dan aku di sini hanya bisa duduk termenung sambil sesekali menertawakan bagaimana semesta berjalan.

"menyesal?"
Menyesal akan bagaimana pilihan yang ku ambil tidak selalu pilihan terbaik. Aku sempat yakin akan sebuah akhir yang lebih indah dari ini. Tapi semesta suka bercanda.

"beranikah?"
Untuk mencoba lagi? Pun suatu hari kulakukan, akan kupastikan itu bukan sebuah percobaan. Pun suatu hari aku mencoba lagi, usahaku harus lebih besar dari ini.

"siapa?"
Yang tepat, di saat yang tepat, dengan cara yang tepat, dengan niat yang tepat, dengan visi yang tepat.

"lalu ini tak salah?"
Ini tidak benar.
Maka selanjutnya aku harus melakukan hal yang benar.

February 20, 2016

Teori Abal

I have a theory, that love grows more as you state it.

Ketika kita suka/kagum dengan seseorang, ada dua pilihan, 1) kita pendam dalam diam, dan 2) kita nyatakan dan usahakan.
Kalimat pertama post ini merujuk pada pilihan kedua.
Pada pilihan pertama, our love won't grow. It stays inside our mind and nothing happens. Jangan berharap doi adalah cenayang yang bisa baca pikiranmu.

Tapi pilihan kedua lain cerita. Setiap orang rasanya pasti punya seseorang/sesuatu tempat ia bercerita. Bisa sahabat, orang tua, buku diary, or even pet (??). Dan ketika kagum dengan seseorang, once you might state it dan katakan pada seseorang/sesuatu itu,
"aku lagi suka sama dia"
Dan poof! Love grows.



Ini teori abal-abalku aja sih.
"We accept the love we think we deserve"
--Stephen Chbosky

Popular Posts