May 9, 2016

The Act of Apologizing

Tulisan ini berangkat dari sebuat pengalaman yang...well, sederhana sebenarnya, tapi pengaruhnya entah kenapa luar biasa. Pengalaman ini aku alami beberapa bulan lalu. Intinya adalah, aku ingin meredefinisi motivasi sebuah tindakan permohonan maaf --anjir bahasa w dah kayak mo penelitian--.
Untuk itu, pada tulisan ini, aku bukan membahas pun mengungkit kejadian itu, melainkan membahas mengenai tindakan permohonan maaf itu sendiri.

Jadi begini ceritanya...
4.46 PM
*a picture was sent*
Aku pulang ya __. Tadinya mau ngasi iniii wkwk. Dah jadi nyoba belum?

Sederhana memang, aku cuma mau memberikan sebungkus chips yang belum lama populer, tapi karena hari itu aku nggak sempat ketemu orang tersebut, maka aku belum sempat memberikannya.
Lalu orang tersebut membalas,
4.56 PM
Iyaa hati2.
Belum. Gampang nanti bisa beli sendiri.
Gak terlalu penasaran juga.

Kalau boleh jujur, aku kaget membaca balasan tersebut. Kayak... mungkin ini aku yang lebay saja, tapi kayak slap on my face! Maksudku, niatku tulus benar-benar ingin memberikan itu. Yah, memang nilainya gak seberapa, bayar pakai cebanan pun kita masih dapat kembalian. Aku yakin juga orang tersebut bisa beli sendiri, tapi bukan itu poinku... Tapi aku merasa tidak berhak marah atau protes maka ku putuskan untuk tidak usah membalas pesan tersebut.
Lalu malamnya, sebuah pesan dari orang yang sama,
7.57 PM
Maaf ya kalo kata-kataku gak enak hari ini

Lalu aku balas paginya,
8.23 AM
.....--gaperlu ditulis--....Maaf bukan maksud ngajarin atau kritik, tapi semoga km gitu ke aku aja, jangan ke orang lain karena gak semua orang bisa terima dapet kata2 yg kurang enak kayak kemarin.

Surprisingly, orang tersebut menjawab lagi,
8.41 AM
Segaenak itu? Itu kan biasa aja. Cuma karena kamu udah tulus mau ngasih itu aku mikir kok kayaknya kurang pas kalau jawab seadanya.
Itu aku balas juga sekenanya karena lagi ngerjain sesuatu.
Coba baca lagi deh. Itu biasa aja kata2nya.
--bagian gaperlu ditulis lainnya--

Lalu aku balas,
8.45 AM
Kalau gitu kamu ndak usah minta maaf harusnya. Bilang maaf itu karena ngerasa ngelakuin kesalahan, bukan biar dirimu ngerasa lebih enak aja, bukan juga karena nggak aku bales lalu kamu ngerasa ada yang salah.
----------------------------------

Yah begitu kira-kira. Dahsyat ya, the power of recalling memory bisa bikin kita menghela nafas panjang lagi seperti saat kejadian itu terjadi.
Dan dari merecall memori itu, aku jadi merenungi hal ini.

Jadi, tujuan dari an act of apologizing, suatu permintaan maaf itu, apa sih?
Lalu,
ketika kita meminta maaf, pikiran seperti apa yang mendorong kita untuk meminta maaf?
Apakah,
"duh kayaknya aku bersalah sama dia"
atau
"duh kayaknya dia gak suka sama apa yang aku ucapkan"

Maksudku, permintaan maaf itu keluar sebagai respon dari sikap kita sendiri, atau sikap orang lain terhadap sikap kita? Mulai njelimet.
Menurutku, suatu permintaan maaf yang tulus terlahir dari sebuah rasa bersalah, rasa menyesal, which is yaa sikap kita sendiri. Tapi yang sering aku temui, permintaan maaf terlahir setelah menyadari bahwa orang lain tak bisa menerima tindakan kita, atau formalitas agar perasaan kita lebih enak saja. Egois, eh?

Aku bukan tipe yang suka mempermasalahkan hal-hal sepele. Mungkin setelah ini, tugasku selanjutnya adalah mendefinisikan "sepele" di sini.

Popular Posts